Pertanyaan Khusus tentang Aceh   2 comments


Khusus tentang Aceh :

Pertanyaan Tertulis So Aduon Siregar, B.A kepada Presiden RI dan Wakil Presiden RI

Susilo Bambang Yudhoyono & Muhammad Yusuf Kalla

. . .

Pengantar

Seyogianya dan sebaiknyalah jawaban diperlukan tertulis dan akan menjadi referensi tulisan yang akan saya siarkan di beberapa Harian Medan. Saya siapkan untuk menyiarkannya adalah HARIAN “MEDAN POS”, seperti telah menyiarkan PERTANYAAN TERTULIS ini. Kliping pemuatannya ikut saya lampirkan bersama ini, di samping visi dan misi Capres RI dan Wacapres RI namun dalam menyebarluaskan visi, misi Presiden dan Wakil Presiden semasih sebagai Capres dan Cawapres RI, khususnya di Sumatra Utara belum meluas dan tidak sampai kepada masyarakat arus bawah.

Saya juga ingin menulis lebih jauh dan secara rinci hasil paparan Capres dan Cawapres, dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Saya harap juga mendapatkan biodata resmi yang lebih lengkap yang turut akan disiarkan, terutama lewat Harian MEDAN POS, dan INFO PRIMA yang diterbitkan Badan Informasi dan Komunikasi Propinsi Sumatera Utara di Medan.

Seyogianya pertanyaan ini, seperti telah saya siapkan, adalah jauh sebelum PILPRES, tetapi tidak satupun media massa bersedia memuatnya, karena menganggap berupa pra kampanye dan sifatnya komersil!.

= Medan, 5 Oktober 2004 =

Pertanyaan Khusus tentang Aceh :

Kenapa dalam menangani masalah GAM tidak dilakukan seperti menangani kasus Teungku Daud Beureueh, DI/TII di tahun 1953 sehingga dengan sadar dan ikhlas beliau kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi dan mendapatkan amnesti ?

“Rakyat dan Jiwa Atjeh adalah murni Republiken dan jiwa ulama nya adalah nasionalis sejati..” (Saya ulang menuliskan ini sebagai catatan bagi kita bahwa Propinsi NAD sudah pulih dari keadaan Darurat dan dikembalikan kepada keadaan Darurat Sipil. Bila benar-benar kita sadar, dalam program 100 hari Kabinet ini, hendaknya sudah dapat pulih kembali tanpa harus darurat-darurat lagi. (Dimuat di Harian Perjuangan, Mimbar Umum, Medan Pos dan Info Prima)

Gubernur Militer Propinsi Aceh, Alm. Teungku Abu Daud Beureueh pernah berkata: “Perjoeangan Repoeblik Indonesia adalah sebagai sebagai samboengan perjoengan dahoeloe di Atjeh dipimpin oleh Almarhoem Tjhi di Tiro dan pahlawan-pahlawan kebangsaan lainnya”.

“Dan perjoengan ini menoeroet kejakinan kami adalah: PERJUANGAN PERANG SABIL. Kesetiaan rakjat Atjeh kepada Pemerintah RI boekan diboeat-boeat ataoe diada-adakan, tetapi kesetiaan jang toeloes dan ichlas jang keloear dari hati noerani”

Tidak sampai dua bulan setelah Republik Indonesia ini diproklamirkan oleh Bung Karno, keluarlah Maklumat Ulama se-Aceh berjudul “Makloemat Seloeroeh Oelama Atjeh” yang isinya: “Segenap rakjat Atjeh bersatoe padoe patoeh berdiri di belakang Maha Pemimpin Ir. Soekarno!” (lihat Mimbar Umum, Sabtu, 8 September 2001, halaman 4: “Rakyat Aceh lah obyeknya, bukan GAM”, penulis: So Aduon Siregar, B.A), yang dikumandangkan ke seluruh dunia dan ditandatangani oleh Tengkoe Hadji Hasan Kreung Kale, Tengkoe M. Daoed Beureueh, Tengkoe Hadji Ahmad Hasballah Indrapoeri dan Tengkoe Hadji Dja`far Sidik Lamjabat, diperbuat di Koetaradja pada tanggal 15 Oktober 1945 berupa seruan kepada segenap rakyat aceh dalam mendukung Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, sambil menunggu perintah dan kewajiban yang akan dijalankan. Di akhir pernyataan itu, keempat ulama besar ini menyatakan lagi: “Menoeroet kejakinan kami bahwa perdjoeangan ini adalah perdjoeangan sutji yang diseboet perang sabil”. Seterusnya maklumat itu berbunyi, untuk meyakinkan rakyat Aceh bahwa: “pertjajalah wahai bangsa koe bahwa perdjoeangan ini adalah sebagai samboengan perdjoeangan dahoeloe di Atjeh yang dipimpin oleh Almarhoem Tengkoe Tjhi` di Tiro dan pahlawan-pahlawan kebangsaan jang lain”.

Maklumat keempat tokoh ulama besar Aceh ini diketahui oleh Residen Aceh Teungku Nyak Arif dan disetujui oleh Ketua Komite Nasional Tuangku Mahmud.

Tidak hanya sampai di sini kesetiaan rakyat Aceh.

Tercatat dalam sejarah :

Saat ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Yogyakarta diduduki Belanda pada tanggal 19 Desember 1948, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Moh. Hatta dan beberapa pemimpin ditawan Belanda, Aceh tetap setia kepada NKRI. Kemudian agar tidak terjadi kekosongan NKRI, kepada Mr. Syafrudin Prawiranegara diberikan mandat membentuk Pemerintah Darurat RI yang berkedudukan di Bukit Tinggi.

Sekitar tiga bulan setelah Yogya diduduki Belanda, tanggal 17 Maret 1949, datanglah undangan dari Wali Negara Sumatra Timur, Tengku Dr. Mansur kepada Gubernur Militer Atjeh Tengku M. Daud Beureueh untuk menghadiri muktamar Sumatera yang akan diadakan di Medan, 28 Maret 1949 (berupa negara boneka ciptaan penjajah Belanda, memecah belah NKRI, ciptaan Van Mook, berupa negara-negara federal versi penjajah Belanda, dikenal dengan Negara Federal model DR. Van Mook, pencipta negara-negara federal di Indonesia; Negara Sumatera Timur, Negara Pasundan, Madura, Borneo, Selebes dan sebagainya.

Tujuan muktamar adalah 1] untuk mengadakan hubungan pertama di antara daerah-daerah dan suku-suku bangsa Sumatera, 2] mengharapkan hubungan pertama ini berangsur-angsur tumbuh menjadi pertalian yang bertambah erat untuk kebahagiaan bangsa Sumatera dan bangsa Indonesia seluruhnya, 3] yang diundang adalah: Aceh, Tapanuli, Minangkabau, Bengkalis, Indragiri, Jambi, Riau, Bangka, Blitung, Sumatera Selatan, Lampung dan Bengkulu.

Analisis dari bunyi “perasaan KEDAERAHAN di Atjeh TIDAK ADA, sebab itoe kita tidak setoedjoe”, situasi dan kondisi ini walau ada tiga pilihan dan kesempatan bagi rakyat Aceh, yaitu 1] Aceh dapat meninggalkan NKRI serta merta dan bergabung dengan Negara Boneka Sumatera Timur yang akan dibentuk, 2] Peluang untuk menjadi negara merdeka sendiri, 3] Tetap dalam pangkuan NKRI.

Jawaban Aceh atas undangan Negara Boneka Sumatera Timur ini dimuat pada Harian “Semangat Merdeka” yang terbit di Koetaradja waktu itu tanggal 23 Maret 1949, yaitu pernyataan Tengku M. Daud Beureueh sebagai Gubernur Militer Aceh yang meliputi Aceh, Langkat dan Tanah Karo. Selengkapnya berbunyi: “Tidak bermaksoed untuk membentoek soeatoe Atjeh Raya dan lain-lain karena kita  tahdi sini adalah bersemangat Repoeblikein. Sebab itoe joega, oendangan Wali Negara Soematra Timur itoe kita pandang sebagai tidak ada sadja, dari karena itoelah tidak kit a balas”

Lebih lanjut Tengku M. Daud Beureueh mengatakan “. . . . . kesetiaan rakjat Atjeh terhadap pemerintah RI boekan diboeat-boeat serta diada-adakan, tetapi kesetiaan yang toeloes dan ichlas, jang keluar dari hati noerani dengan perhitoengan dan perkiraan yang pasti. Rakjat Atjeh tahoe pasti bahwa kemerdekaan secara terpisah-pisah, negara per negara tidak akan mengoentoengkan dan tidak akan membawa kepada kemerdekaan jang abadi”.

Memang, 58 tahun silam bulan madu antara RI dan Rakjat Atjeh terjadi. Namun “hati nurani Aceh” adalah “setia” dan itu akan tetap terjamin dan terbentang.

Apakah benar bahwa yang menamakan dirinya dan yang dinamakan GAM itu terdiri dari berbagai dan beberapa fraksi ?

Menurut catatan yang kami dapat, yang menamakan dirinya Dr. Hasan di Tiro itu bukan saja bukan orang Tiro, tetapi adalah asli orang Jawa yang berasal dari Banten, dan baru masuk ke Aceh adalah Kakek nya, dari jalur Bapak yang bernama Tengku Ma`at meninggal tanggal 4 Desember 1911, dijadikan Hasan sebagai hari Deklarasi GAM, 4 Desember 1966. Bapaknya, Leubee Muhammad dari Tanjong Bungong Lameulo, Pidie. Dari jalur Ibu nya adalah Fatimah anak Majidin, anak Syech Saman anak dari Tengku Pakeh Klibet alias Tengku Samalanga juga berasal dari Banten (lihat “SILSILAH HASAN MA`AT alias HASAN TIRO).

Di Swedia, markas besarnya lebih kurang 20 km dari Stockholm, sehari-hari dia harus dipanggil dengan nama Yang Mulia Hasan Chazibul Akbar Di Tiro dan nama lengkap yang dipublikasikannya adalah Al Mudzabir Al Maulana Al Malik Al Mubin Professor Doctor Sultan Di Tiro Muhammad Hasan Ibnal Sultan Ma`at Di Tiro, satu-satunya pewaris Tengku Umar dan Tengku Chik Di Tiro.

Diketahui dari catatan sejarah yang ada, anak bungsu Tengku Chik Di Tiro, Pahlawan Nasional yang legendaris itu, yang terakhir adalah Tengku Mayet yang gugur melawan Kompeni, tanpa punya anak, masih muda, pada tanggal 5 September 1910.

Hasan Ma`at alias Hasan Tiro ini adalah penganut ajaran Nietzche dan Machiavelli yang kental !!

. . .

[ Bersambung . . .  "Silsilah Hasan Ma`at alias Hasan Tiro" ]

. . .

Ditulis Ulang Oleh:

Jumi Sanoprika J.P, S.E

[ ex Koordinator Liputan Aceh – Harian Medan Pos, sekarang sebagai Kepala Biro Pidie – Eksekutif ]

About these ads

2 responses to “Pertanyaan Khusus tentang Aceh

Subscribe to comments with RSS.

  1. Wah…wah
    Baru baca saya tulisan seperti ini.

  2. ??????????Syech Saman anak dari Tengku Pakeh Klibet alias Tengku Samalanga, diman saya bisa baca silsilah dari beliau2 ini????????????

    p. manyana husein-knabe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 121 other followers

%d bloggers like this: