Release KARAT   1 comment


HAI AUSTRALIA dan AMERIKA !

KAMU RASIS, RASIALIS dan FASIS

Release KARAT (Komite Aksi Rakyat Territorial)

Bagian-1 dan Bagian-2

Bagian-1 Dicetak Ulang Kembali Bersama Bagian-2

Jakarta, 13 April 2006

Edited: 07 September 2008

BAGIAN-1

Benua Australia adalah milik bangsa ABORIGIN sebelum dirampok dan dijarah oleh bangsa “kulit putih” dari Eropa. Benua Amerika adalah milik bangsa INDIAN sebelum bangsa “kulit putih” merampok dan membunuh mereka. Bangsa kulit putih ini juga berasal dari Eropa.

Kemanakah bangsa ABORIGIN dan bangsa INDIAN ini ?

Dimanakah mereka berada ?

Bangsa ABORIGIN “berkulit hitam dan berambut keriting”. Bangsa INDIAN “berkulit merah dan berambut hitam”. Bangsa ABORIGIN telah “dibuang” ke daerah gersang tanpa air, di antara ular dan buaya serta binatang buas lainnya di tanah benua Australia milik mereka sendiri seperti yang ditempatkan oleh Tuhan. Bangsa INDIAN telah “dibuang” ke tengah-tengah rawa-rawa Missisippi dan rawa-rawa lainnya, hidup dengan ular, buaya, dsb. Bangsa Aborigin dan bangsa Indian sudah “dilimitkan” menjadi “suku terasing” di tanah airnya sendiri. Siapakah yang “memaksa” mereka “hidup segan mati tak mau” seperti itu ? Mereka diperlakukan seperti BINATANG oleh bangsa KULIT PUTIH yang menggembar-gemborkan dirinya anti rasis, anti rasialis, memuliakan hak asasi manusia, penegak humanitair, hak menentukan nasib sendiri, dsb. Ternyata propaganda double-standard itu semua cuma “mulut kotor” bangsa kulit putih dan tipuan belaka.

Bangsa kulit putih yang berasal dari Eropa dan sekarang merupakan “penguasa-penjajah” benua Australia berasal dari kaum KRIMINAL, maling begal, dan gembel, yang “dibuang” oleh penguasa Inggris dan negara-negara Eropa lainnya. Keturunan begal inilah yang kini berkuasa di benua Australia, tentu saja ditambah serta bercampur dengan keturunan orang kulit putih Eropa lainnya yang datang kemudian. Tetapi sama saja, mereka telah menghinakan manusia ABORIGIN, telah “membinatangkan” manusia ABORIGIN, telah MELANGGAR HAK ASASI MANUSIA dalam kualitas pelanggaran “super berat”. Kualitas yang sama juga juga dilakukan oleh bangsa kulit putih dari Eropa terhadap bangsa INDIAN di benua Amerika. Tetapi bangsa kulit putih Amerika punya tambahan “dosa tak berampun” lainnya yaitu PERBUDAKAN terhadap “BANGSA NEGRO”, yang diculik dan diperjuabelikan dari benua Afrika. Negro adalah bangsa “kulit hitam“, bukan bangsa kulit putih. Perang Abraham Lincoln (perang sipil) untuk menghapuskan perbudakan telah menyisakan perlakuan RASIS dan RASIALIS dari orang kulit putih terhadap orang kulit hitam NEGRO di Amerika Serikat hingga detik ini. Hal ini terungkap ketika Condoleeza Rice Menlu AS buka mulut di sekolah Madrasah Islam jl. Raden Saleh Jakarta Pusat dalam kedatangannya ke Indonesia “persis” ketika penandatanganan kontrak paksaan eksplorasi BLOK CEPU antara EXXON Oil dengan Pertamina. Kasus Blok Cepu itu sendiri merupakan “bukti” bagaimana sebenarnya bangsa kulit putih memperlakukan bangsa-bangsa, tanah air, kekayaan alam, “kedaulatan”, “hak dari Tuhan” yang dimiliki oleh bangsa-bangsa “kulit berwarna” (orang Indonesia: SAWO MATANG).

Kita sama sekali tidak “tutup mata” dan “tutup mulut” tentang RASIS dan RASIALIS bangsa kulit putih Amerika Serikat, Australia dan Eropa, mereka RASIS dan RASIALIS !. Jangan mau ditipu dengan rayuan dan kata persamaan hak, tidak ada perbedaan AGAMA dan warna kulit, menghormati “kedaulatan”, “kemerdekaan”, “keadilan” dan “kemanusiaan”. Mereka inilah yang “menginjak-injaknya”. Sekali-kali JANGAN LUPAKAN ITU !.

Catat dan ingat baik-baik bahwa BUSH, Presiden AS dan HOWARD Perdana Menteri Australia adalah HITLER serta FASIS abad 21. Di belakang mereka “berdiri” Yahudi-Zionis WOLFOWITZ dan ALEXANDER DOWNER, baca: FREEMASONRY !. Bahwa orang-orang Yahudi menganggap bangsa-bangsa selain Yahudi adalah “BATU BUTA”, termasuk bangsa “pagan” Inggris, Belanda, Prancis, Jerman, Italy, Spanyol, Portugis, Belgia, Austria, Rusia, Cina, Jepang, Indonesia, Negro, Indian, Aborigin, Maori, India, Creol, Bush, Howard, Rumsfeld, si Condy (Condoleeza Rice), Blair, dsb.

Jadi, “kalian” wahai Australia dan Amerika jangan berpikir bahwa “pemberian visa” kepada orang Papua di Australia itu hanya sekedar “basa-basi” dengan segala macam rayuan busuk seperti yang kamu koar-koarkan itu. Semua itu ada kaitannya dengan rentetan lepasnya Timor-Timur dari NKRI, Bom Bali-I dan II, Bom Marriot, Bom di depan Kedubes Filipina dan Australia, tragedi Poso, tragedi Aceh, tragedi Ambon/Maluku, dan terakhir tragedi Papua Barat. Semua itu KALIAN PUNYA KERJA ! Kalian si RASIS, RASIALIS dan FASIS. Lima puluh juta (50.000.000) MAHASISWA dan PEMUDA Indonesia dan lima ratus ribu (500.000) TNI-TENTARA RAKYAT Indonesia TAHU itu !!!. Apakah polisi Australia itu masih “ngendon” di Mabes POLRI?

Ataukah itu “tidak pernah ada” setelah Bom Marriot dan setelah kasus Abepura?

Jangan sekali-kali “kalian” berpikir wahai Amerika dan Australia bahwa Mahasiswa dan Pemuda Indonesia itu “bermata buta”, “berkuping tuli” dan “bermulut bungkam”. TIDAK !. Kami cerdas, kami memiliki intelijensia tinggi, dan kami mengerti intelijen !.

Orang-orang intelijen yang kalian kirim kemari juga “pekerja kasar”. APANYA yang tidak kami deteksi? Mereka juga “korup” dan “memble” kok. Kalian Cuma punya DUIT, peralatan teknologi canggih, kekuasaan kenegaraan, persenjataan, dan tentara. Semua itu kami tidak punya. Tetapi kami mampu “membaca” dan “mendeteksi” apa KERJA dan apa MAUNYA kalian. Apanya yang kami tidak tahu? Apalagi soal “double standard” kalian itu.

· Amerika kan sedang berada dalam “Perang Strategy” dengan RRC? Ya nggak?

· Tetapi Rusia, Jerman, dan Perancis “berada” di belakang RRC kan ?

· Inggris ingin mengadu domba AS versus RRC sehingga dengan demikian Inggris kembali “berkibar” pasca kehancuran Amerika? Ya kan?

· Australia itu terkadang “ikut Amerika”, terkadang “ikut Inggris”. Ya kan?

· Di Singapore itu “ngendon” Amerika, Cina, India, Melayu (sedikit) dan Yahudi. “Kabarnya” tentara Singapore itu terdiri dari “pasukan Yahudi” dan “keturunan Cina”. Ya nggak?

· Singapore sudah mendapat “tugas” dari RRC dan AS agar segera “masuk” kepulauan Batam dan Pulau Bintan.Ya nggak?

· Jadi daerah-daerah kami yang sedang “kalian” kerjain adalah Papua, Poso, Timor Barat, Maluku, Aceh, Batam dan Bintan. Ya nggak?

· Apa yang sedang kalian kerjakan di Sulawesi Utara? Kalian sudah kapok kan di Irak? dan “cuak” di Iran? dan sudah berkonspirasi dengan suku Karen di Myanmar kan? Kapan Amerika Serikat “masuk” ke Manchuria untuk “memalang” antara Rusia dengan Cina? dan kapan Tanah Genting Kra dijadikan terusan?

Jadi, ‘kalian’ Australia dan Amerika jangan ‘sok’ operasi intel-lah. Kelihatan semua itu oleh ‘mata’ kami Mahasiswa dan Pemuda Indonesia. Tapi kami kurang berselera untuk membikin malu CIA, Pentagon, MI-6, Mossad, dan intel-AUSTRALIA.

Ingat baik-baik hai Australia bahwa kami tidak pernah melupakan asal ‘keturunan’ kalian dari GARONG Eropa ! Sampai sekarang tabi’at kalian masih tabi’at garong, begal, rampok, curang tidak bisa dipercaya ! Ketika orang Papua dibawah penjajahan Belanda orang Papua tetap telanjang pakai KOTEKA. Baru setelah berada didalam NKRI MERDEKA, orang Papua bisa pake baju dan celana. Hanya orang Papua yang ‘indo’ dan menjadi budak penjajahan Belanda yang bisa berpakaian dan sekolah. Nah kamu Australia mau apa pula di Papua ?

Kamu Australia tidak bisa membebaskan diri selain dari menjadi ‘EKOR’ Amerika dan Inggris sambil ‘mencuri’ kesempatan bagi dirimu sendiri. Eksistensi, watak, dan tabi’at Australia tidak lebih dari itu. KEPINGIN MIMPI MENJADI NEGARA ADIKUASA.

BAGIAN-2

Australia ibarat seekor ‘kangguru-sakit’ dan Amerika ibarat ‘Romawi-sakit’. Kedua-duanya baru terbangun dari mimpi buruk yang diciptakan oleh Evengelist, Zionis, dan Fasis. Bush yang ‘IQ-jongkok’ itu dan HOWARD yang ‘sakit jiwa’ (sebenarnya dia mengidap penyakit “minder”) kebetulan ‘ketemu’ dalam jebakan kekuasaan ‘gelap’ yang mereka tidak sadari. Yaitu, mereka dijadikan ‘budak’ dan ‘batu buta’ belaka. Negara Amerika-Serikat dan Negara Australia sedang ‘dipertaruhkan’ EKSISTENSINYA saat ini.

Bagi kita syukur-syukur saja dan kita tahu persis bahwa kedua negara ini sedang dalam proses ‘hancur dari dalam’. Kondisi objektif perkembangan ‘jiwa’ manusia sedang mengalami perubahan yang sangat fundamental dalam abad 21 ini. Dan ‘sedihnya’, itu sedang berkembang di dalam tubuh kedua negara tersebut ‘Orang Negro’ yang masih tetap hitam pekat berminyak dengan rambut kriting, bekas budak, sekarang ini telah berada pada puncak ‘kematangannya’ di Amerika. Dendam kesumat sekian kali tujuh turunan ‘sudah menjadi’ saat ini. Yomo Kenyiatta dan Nelson Mandela telah memberi inspirasi kepada negro-Amerika ini. Kedua ‘orang besar’ kulit hitam asli Afrika itu telah berhasil membuat orang negro ‘menjadi orang’ kembali, setelah berabad-abad dijadikan binatang oleh bangsa kulit-putih Amerika keturunan Eropa-daratan dan Anglo-Saxon penegak kebiadaban-manusia. Kemajuan teknologi ternyata tidak berpengaruh terhadap ‘jiwa biadab’ bangsa kulit-putih, malahan menjadi lebih biadab seperti terlihat sekarang ini.

Selain orang negro, saat ini di seluruh negara Amerika-Serikat telah bangkit dan ‘sayangnya’sudah pula terorganisir orang-orang keturunan Mexico, Cina, Jepang, Vietnam, Korea, Timur-Tengah, INDIAN, dan Yahudi, telah siap menjadi ‘bom waktu’ untuk meledak. FBI, CIA, Pentagon itu ‘memble’ di dalam negerinya. ‘Namanya’ saja yang besar di luar, padahal di dalam negaranya sendiri keropos. Semuanya perkembangan tersebut tidak bisa lagi ‘disurutkan ke belakang’, sebab rodanya sudah berputar ke depan. Kebangkitan negara Cina-RRC telah mendongkrak itu semua dengan percepatan yang tidak dapat dibayangkan oleh manusia yang berfikir berdasarkan ‘referensi’ buluk belaka. Mesin quick count “NDI (National Democratic Institute -LSI (Lembaga Survei Indonesia) – FI (Freedom Institute)” bersama begundal-begundal Amerika itu tidak bisa menghentikan ‘ledakan’ bom-waktu ALIANSI bangsa-bangsa yang selama ini ngendon di bumi-Indian Amerika itu. Takdirnya sudah ‘sampai’ dan faktor sunnatullahnya sudah ‘cukup’. Mengapa NDI-LSI-FI ? Karena perkembangan di Amerika itu akan berpengaruh ke Indonesia. Ingat-ingat itu !!! Dunia ini kecil bung !

Pararel dengan perkembangan yang terjadi di dalam negara Amerika, maka di bumi–Aborigin Australia telah tercipta, telah tergumpal pula dalam suatu ‘gumpalan pekat’ diantara orang-orang keturunan dan pengungsi atau orang minta suaka dari Vietnam, Bangladesh, Pakistan, India, CINA, Afganistan, Jepang, ABORIGIN. Ini bukan sekedar Bom-Bali dan Bom-Marriot tetapi setara bom-atom Amerika yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki.

Catatan : MI-6, Mossad, Jezuit, dan Zionis boleh membuka arsipnya mengenai perkembangan ini. CIA, Pentagon dan Intel Australia yang sok-arogan itu tidak punya data seperti ini karena sudah ‘terlena’ dalam mimpinya untuk ‘mengangkangi’ sumber daya alam Indonesia serta bercita-cita ‘membubarkan’ NEGARA Republik Indonesia.

Kegetolan Amerika dan Australia melancarkan ‘PERANG TERORIS’ kepada negara-negara Timur-Tengah dan INDONESIA (bukan Filipina, bukan Thailand, bukan Singapore) itu sedang berbalik surut menjadi ‘senjata makan tuan’. Dan kampanye ‘otak kosong’ Amerika dan Australia tentang terorisme dan ‘akan ada teror’ di Indonesia dengan (antara lain) sudah untuk kedua kalinya mengeluarkan ‘travel warning’, sedang dalam menjadi ‘mulut kamu harimau kamu, yang merekah kepalamu’. Terorisme yang dikoar-koarkan, HAM yang dijadikan barang jualan basi, dan kesetaraan-persamaan-kerjasama dan berbagai sampah lainnya itu SUDAH berbalik menjadi permusuhan seluruh dunia terhadap Amerika dan Australia.

MI-6 tentu TIDAK-SEMBARANGAN ‘merekomendasikan’ BLAIR segera mengunjungi Indonesia dan khusus menemui ‘orang-Islam-nya’, benar-benar TEPAT WAKTU. Boleh juga mih MI-6; menangguk di air keruh pada saat Australia dan Amerika ‘bermasalah’ disini. Tetapi siapa di belakang MI-6 ? Inggris pasti punya arsip tentang kebiadaban Klu Klux Klan Amerika dan ‘Klu Klux Klan’ garong dan pembantai bangsa Aborigin di Australia. Dibanding Amerika dan Australia, disini Inggris masih meninggalkan nama Raffles yang harum. Inggris juga ‘berhitung’ tentang manuver Australia mendekati Jepang sekarang adalah saat yang tidak tepat. Kemelesetan Amerika dan Australia benar-benar menguntungkan Inggris. Sebaliknya, kita tetap ‘terjerat’ dalam belenggu quick count Amerika yang telah menaikkan SBY kesinggasana yang pernah diduduki oleh Sukarno dan Suharto idolanya. Sementara ‘anak asuhan’ Amerika mengelilingi serta ‘menghantuinya’, tentu saja minta porsi yang lebih banyak.

Sebagai ‘Gubernur Jendral’ Amerika hasil mesin quick count, SBY ‘mati-kutu’ terhadap penginjak-injakan Australia, ‘ekor’ Amerika itu. Yang bisa dikerjakan SBY adalah menari-narikan tangannya di depan TV sambil mempertontonkan anak Sarwo Edhi (hampir seperti Gusdur menjual kelumpuhan istrinya). Sementara itu, orang yang disebut namanya tiga kali dalam Surat At-Takatsur, mengambil kesempatan dan keuntungan terus. Masih belum puas dengan ’proyek MOU RI-GAM’ Helsinki, digarap lagi ‘proyek perusakan Batam dan Bintan’ bersama Singapore (artinya; Singapore boleh memperluas negaranya sampai ke pulau Bintan dan Batam), ditambah lagi dengan ‘proyek 1.000 kilometer’ jalan tol mungkin dari Merak ke Ketapang (lebih panjang dari ‘jalan Deandels’). Nah berapa batu, pasir, aspal, truk, bulldozer, dsb yang dibutuhkan ya ?? Masalah pertanahan tambah panjang daftarnya, paling tidak sepanjang jalan ‘Deandels-II’ ini. Gang of Four tiung-tiung, rakyat meraung-raung, penegak hukum kudung (putus-kaki, putus-tangan), konflik horizontal membumbung, Mahasiswa dan Pemuda MAUNG.

Semua ini berada ‘di bawah ruang lingkup’ operasi-TERORIS Amerika-Serikat dan Australia. “Maharaja” Exxon-Freeport-Newmont-Caltex-Shell bertambah ‘cerdas’ dan perkasa dalam menjalankan ‘penjajahannya’ terhadap PENGUASA dan rakyat Indonesia. Zikir maharaja-teroris seperti Jama’ah Islamiyah, Al-Qaeda, Nurdin M.Top, kaum-fundamentalis-Islam, pengayaan uranium proyek nuklir Iran, konflik sektarian di Pakistan-Irak-Turki-India-Kashmir-Somalia-Thailand dsb terus ‘dikoar-koarkan’ melalui operasi psywar dan ‘perang agiprop’ serta ‘perang informasi dan komunikasi’.

Pemerintah, DPR, DPD, ‘preman’ partai politik, ‘pengamat’, profesor-doktor, KADIN, Bank Indonesia, dsb ‘semua memble’, ‘tidak mengerti gerak musuh’, ‘bersedia DITIPU’, ‘tunduk kepada intimidasi dan pendiktean asing’, dsb. Jadi saat ini tidak ada lagi yang dapat diharapkan untuk ‘menyelamatkan’ bangsa dan rakyat dari ‘pemerkosaan’, dari ‘penjajahan’, dari ‘penipuan’ oleh bangsa kulit-putih eks-kolonialis, neo-kolonialis, liberalisme, dan imprealisme gaya baru. Semua TOLOL dan BODOH (tapi pintar korupsi). Zikir maharaja teroris itu tidak bisa HANYA zikir-massal, istighosah, do’a-bersama, unjukrasa berseragam parade kesopanan Islami, dan caci maki yang tidak strategis serta tidak ditunjukkan ‘langsung’ kepada Markas-Besar Teroris di Gedung Putih (White House) Washington dan sempalannya si-paranoid di Canberra.

Kasus Abepura dan kasus-kasus lainnya yang terjadi di Papua merupakan 100 % operasi intelijen yang bercampur-baur dari beberapa pihak. Pihak Australia dan Amerika-Serikat PASTI terlibat. Tetapi masalahnya: siapa ‘pihak-lain’ itu selain AS dan Australia ? Bahwa OPM dan LSM telah ‘dipakai’ dan menjadi pelaksana-operasi intelijen mereka, itu tidak usah dipersoalkan lagi, sebab MEMANG BEGITU. Apakah Belanda terlibat ? Ya pasti toch ? Dalam masalah Timtim, selain Australia, apakah AS dan Portogal terlibat ? Ya so pasti toch ? Mereka teroris yang sebenarnya, bukan teroris-terorisan. Dan siapa ‘AGEN’ mereka selain OPM dan LSM dan ‘kaum indo’ di Papua dan Timor-Leste ? Ya manusia sawo matang dan kulit hitam itu sendiri yang berperan sebagai ‘NICA’ imperialis-teroris di dalam negara dan tubuh bangsa ini. NICA-NICA ini yang duluan HARUS ‘digorok’.

Di Indonesia ini tidak-ada satu peristiwa atau kasus atau tragedi yang berdiri-sendiri. Satu dengan yang lain kait terkait. Dari mana mulai untuk menjernihkan benang kusut dan proses hancur-hancuran bangsa ini ? Dari ‘menggorok’ NICA-NICA itu ! Mereka bukan hanya NICA-NICA, NICA-Pentagon, NICA-intelijen Australia, NICA-Portugal, NICA-Belanda, dsb tetapi juga NICA-Singapore, NICA-IMF, NICA-Bank Dunia, NICA-Cina, NICA-RRC, NICA-Liberalisme, NICA-globalisasi dan perdagangan bebas dunia, NICA-‘bantuan kemanusiaan’, NICA-diantara (tidak semua) LSM tertentu, NICA di kalangan intelijen ‘sisa’ OPSUS Ali Murtopo, NICA di kalangan TV-SWASTA yang sudah dikuasai oleh pihak asing (lihat saja siapa yang paling getol menyiarkan rekayasa quick count dan flu-burung/demam-berdarah/lumpuh-layu dsb), NICA di kalangan wartawan dan pemilik serta redaksi surat kabar, NICA di kalangan PENGUSAHA pribumi-kaya KKN dan non pribumi KKN, dsb, dsb.

Semua deretan ‘daftar NICA’ tersebut-lah yang merupakan ‘penggorok bangsa’ bersama para KORUPTOR penghancur bangsa.

Soal 42 peminta suaka ke Australia, (yang ‘katanya’ adalah dari Papua-Indonesia), kulitnya hitam rambut keriting, itu SOAL KECIL. Itu cuma ‘bahagian kecil’ dari operasi intelijen BEBERAPA PIHAK, seperti yang sudah digambarkan di atas. Itu cuma ‘satu mata-rantai’ saja dari operasi intelijen yang BESAR, panjang dan strategis. Lepasnya TIMTIM dari NKRI itulah cermin tindakan 42 orang peminta suaka itu. Sebanyak 42 orang oknum itu ‘dibawa keluar’ oleh operasi intelijen untuk ‘memprovokasiIndonesia. Perkara ‘alasan’ mereka ‘lari’ ke Australia itu, itu bisa apa saja bunyinya. Dan alasan itu tidak penting. Tindakan operasi intelejen dan memprovokasi REPUBLIK Indonesia yang terus dilancarkan oleh negara-negara kulit-putih kapitalis-imperialis terhadap bangsa dan NEGARA Republik Indonesia, itulah INTI masalah kita. Kata ‘genocide’ dipakai, sebenarnya mesti dilihat analoginya dengan kata ‘senjata pemusnah massal’ yang dituduh Amerika terhadap Sadam Husein, lalu Irak di-intervensi dan DIJAJAH, tuduhan genocide sudah jelas tujuannya !!!.

42 ekor’ peminta suaka ke Australia itu belum tentu orang Papua, jadi itu soal ‘gelap’ operasi intelijen belaka. Yang perlu diurus oleh pemerintah SBY adalah: kalau Amerika dan Australia mengeluarkan travel warning sekali lagi, maka Presiden atau Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) harus mengeluarkan pernyataan seperti:

‘ORANG AUSTRALIA dan ORANG AMERIKA yang sedang berada di Indonesia DIPERSILAHKAN DENGAN SEGERA MENINGGALKAN WILAYAH REPUBLIK INDONESIA.

Tentu saja pernyataan seperti ini sangat ‘ditakuti’ oleh dua orang: yang satu takut dimarahi BOS-nya, yang satu lagi takut kehilangan proyek. Beginilah bangsa ini telah ‘salah jalan’ karena dipimpin oleh orang-orang goblok dan tidak berkwalitas PEMIMPIN. Ada yang salah pada bangsa ini.

KENAPA YANG NAIK KE TANGGA KEKUASAAN CUMA ‘ORANG KEBETULAN’ MELULU.

Posted 07/09/2008 by sanoprika in Sosialisme Kerakyatan

One response to “Release KARAT

Subscribe to comments with RSS.

  1. Pingback: Komentar elektro-usu@yahoogroups.com « Merdeka dalam Penjajahan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: