Respubliken Indoneswa   Leave a comment


Menegakkan Kedaulatan Rakyat Dengan Membangun Generasi Mandiri

*Mengantisipasi Ancaman Keutuhan Bangsa Indonesia

Resume “Sarasehan Mahasiswa dan Pemuda Indonesia”

Gedung Juang Jakarta, 2002.

*************************************************************

Dimuat Harian Medan Pos, 26 Mei 2006

Memperingati Hari Kebangkitan Nasional

Deklarasi Masyarakat Anti Komunis Sumatera Utara

Tugu `66, Medan – 20 Mei 2006

************************************************************

Edited: 08 September 2008

Memperingati Hari “Respubliken Indoneswa”, 9 September 1927

*************************************************************

PERTEMUAN wakil-wakil 18 kerajaan pada tanggal 9 September 1927 di Istana Tapak Siring Bali merumuskan komitmen kebangsaan, bahwa kerajaan-kerajaan di Nusantara menyadari persamaan nasib sebagai bangsa terjajah, bangsa tertindas oleh praktik kolonialisme. Persamaan ini terkristalisasi ke dalam tataran nilai ide, keinginan bersatu dalam sebuah “Respubliken”.

Nilai ide dari Respubliken Indoneswa, kemudian dikenal dengan Republik Indonesia, adalah kesadaran untuk bersatu dalam sebuah negara, naluri perlawanan dari bangsa terjajah untuk menolak segala bentuk penjajahan, khususnya pada saat itu di wilayah territorial persada nusantara Indonesia. Inilah filosofi kenegaraan Republik Indonesia. Tidak cukup filosofi kenegaraan, sebuah bangsa seperti Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, etnis, ras, dan budaya, dari Aceh hingga Papua, perlu ikatan filosofi kebangsaan, yakni Negara Kesatuan.

Bangsa-negara (Nation-State) Republik Indonesia ini kemudian berkomitmen, Negara Kesatuan dalam wilayah kebangsaan perlu menjamin tegaknya Kedaulatan Rakyat. Parameter Kedaulatan Rakyat tersebut yakni “Keadilan Sosial” dengan menciptakan masyarakat makmur sejahtera. Republik Indonesia dalam wilayah kenegaraan perlu menjamin proses demokrasi yang sesuai kondisi objektif bangsa. Demokrasi yang original kebangsaan, bukan demokrasi plagiat yang mengadopsi demokrasi ala Amerika, maupun ala Eropa. Kedaulatan Rakyat dan Proses Demokrasi inilah yang kemudian menjadi komitmen dari keinginan luhur bangsa Indonesia saat mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), prasyarat keutuhan negara-bangsa.

Misi penegakan kedaulatan rakyat dan pengawasan proses demokrasi diatur dalam lembaganya masing-masing, yakni lembaga kedaulatan rakyat dan lembaga proses demokrasi. Strategis kedaulatan rakyat telah tertuang dalam Pasal 1 Ayat 2 Undang-undang Dasar (UUD) NKRI tahun 1945, bentuk negara kesatuan berdasarkan nilai-nilai Pancasila sebagai platform kebangsaan. Namun kemudian, polemik sistem kenegaraan Republik Indonesia bersumber pada proses demokrasi yang diatur dalam Pasal 2 Ayat 1 UUD NKRI tahun 1945 yang menerapkan demokrasi Trias Politika ala Montesqiue, yakni demokrasi kepartaian. Masyarakat merasakan bahwa proses demokrasi kepartian justru mendistorsi kedaulatan rakyat, bukannya dikontrol oleh penegakan kedaulatan rakyat yang hakiki, yakni mendengarkan suara hati nurani rakyat, bukan kepentingan politik golongan elit wakil rakyat yang duduk di parlemen.

Dinamika gerakan mahasiswa dan pemuda, paska Angkatan `45 dan Angkatan `66 dirasakan hanya sampai ke titik kristalisasi tanpa akumulasi kekuatan. Akumulasi kekuatan diharapkan mampu membangun kekuatan originalitas bangsa, melahirkan ketokohan kepemimpinan nasional sekapasitas Tan Malaka, Bung Karno, Bung Hatta dan Bung Syahrir.

Malah yang lahir kemudian justru generasi-generasi plagiat yang menjadikan Marx, Lenin, Trotsky sebagai panutan. Ke depan, mahasiswa dan pemuda hendaknya segera me-manage asset bangsanya ini menjadi generasi yang mandiri, bangsa yang kreatif (Creative Society) sehingga mampu membangun kedaulatan rakyat. Generasi mandiri adalah generasi yang tidak bergantung pada bangsa asing, tanpa terpesona oleh tipuan kapitalisme dan komunisme dan yang terpenting, generasi yang tahu dan mengerti menghitung asset bangsa, wilayah bangsa dan ideologi bangsa. Generasi era tahun 2000 inilah yang diharapkan mampu membangun kemandirian generasi, siap menerima estafet perjuangan dari generasi Angkatan `45 yang mengantarkan bangsa Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan. Namun, siap pula meneruskan perjuangan generasi Angkatan `66 yang telah menghirup udara alam kemerdekaan dan mengisi kemerdekaan dengan melawan pengaruh komunisme di Indonesia. Tetapi, samudra luas kemerdekaan ini masih harus tetap dipertahankan oleh ancaman bangsa asing melalui kapitalisme total dan komunisme. Saat ini kita berada dalam kapal yang oleng dan retak sana-sini. Tergantung kita generasi muda penerus perjuangan bangsa, apakah kita tenggelam bersama kapal bangsa ini yang hampir karam, atau bersama-sama kita perbaiki dan nakhodai mengarungi samudra kemerdekaan. MERDEKA 100 % !!! ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: