IDEOLOGI [1]   1 comment


IDEOLOGI

Pada hakekatnya Ideologi berada diantara WAHYU dan AJARAN.
Ideologi merupakan atas dari Ajaran bertangga naik, dan merupakan bawah dari Wahyu bertangga turun.

Formulasi-formulasi Ajaran dan/serta spekulasi-spekulasinya, diserap dan diluruskan di dalam kaidah-kaidah Ideologi, dan bertemu atau bersatu di situ dengan ayat-ayat Wahyu yang telah diturunkan oleh Sang Maha Pencipta-Yang Maha Esa melalui Utusan-utusan-Nya atau Nabi-nabi-Nya atau Rasul-rasul-Nya.

Segala Ajaran dan Adat yang merupakan turunan-turunannya itu, dikumpulkan kembali ke dalam Ideologi. Saringan Ideologi mencampakkan unsur-unsur destruktif yang sudah berkarat di dalam praktek adat serta unsur-unsur yang telah mengkontaminasi ajaran-ajaran yang murni yang dibawa oleh Utusan-utusan yang tersamar itu.

Titik-titik temu atau lapisan-lapisan pengentalan yang terjadi antara Wahyu dan Ajaran, menjadi milik Ideologi, menjadi formula-formula Ideologi, menjadi tatanan-tatanan baru, dalam pengembangan hidup manusia.

Segala manipulasi-manipulasi dan kekotoran terhadap Wahyu, yang telah disampaikan oleh para Rasul agama Samawi, juga disaring dan dimurnikan kembali oleh Ideologi. Wahyu yang sudah tumbuh menjadi jiwa atau watak serta akal budi manusia, diambil dan dilestarikan oleh Ideologi.

Ideologilah yang mempasak-pasak atau menyatukan pasangan-pasangan yang harmonis, dari unsur-unsur Wahyu dan unsur-unsur Ajaran menjadi saripati perjuangan kemanusiaan, menjadi pedoman kelestarian hidup di dalam alam ciptaan Tuhan Sang Maha Pencipta – Yang Maha Esa dan dalam pergaulan hidup antar manusia itu sendiri.

Marxisme – Leninisme – Stalinisme itu barulah merupakan percobaanuntuk membangun suatu Ideologi yang mendasarkan diri kepada nilai pikir semata atas hasil analisa terhadap faktor-faktor ekonomi, sosial, politik, dan perkembangan-perkembangan lainnya yang terjadi dalam sistem kapitalis. Konsep ini mengabaikan sama sekali unsur-unsur Wahyu dan Ajaran.

Sumber Ideologi adalah Wahyu. Penyangganya, penopangnya, pelengkapnya adalah Ajaran. Secara total keduanya sebenarnya adalah satu jua, diteteskan dan dibawa oleh para Utusan Allah. Keduanya setelah diberi kesempatan beradaptasi dengan alam dan makhluk lainnya di bumi – khususnya manusia melalui Sunatullah, baik yang kotor maupun yang cipta antar aksi yang baik, akhirnya tergumpal di dalam Ideologi melewati penjernihan-penjernihan dan pencerahan-pencerahan sepanjang jaman yang dilaluinya.

Jadi, sebenarnya Ideologi itu meng-alam, melalui penyerapan oleh fithrah manusia terhadap Wahyu dan Ajaran. Ideologi merupakan gumpalan-gumpalan yang jernih yang sambung-menyambung, yang tercipta di dalam dan sepanjang jaman.

Perang Strategi antara Amerika Serikat versus Republik Rakyat China adalah “adu Grand Design”, dalam tataran strategi, bukan dalam tataran Ideologi. Ini bukan “Perang Ideologi”, karena baik AS maupun RRC tidak mengenal Ideologi.

Nasionalisme dan Patriotisme sudah jelas tidak mampu lagi mengisi “Kehampaan Ideologi” bangsa. Hampa Ideologi yang telah terjadi di dalam tubuh bangsa ini, karena qalbunya mati, nuraninya tumpul, otaknya rongsokan. Kelanjutannya adalah: patriotisme, idealisme, nasionalisme telah terhapus dari jiwa-bangsa. HAMPA IDEOLOGI itulah kata kuncinya.

Sesungguhnya Pertahanan Strategis rakyat, bangsa dan Negara Republik Indonesia ini adalah :
[1] ekonomi kerakyatan yang berakar,
[2] tentara professional,
[3] Ideologi.

Karena hampa Ideologi, maka otakpun menjadi rongsokan, kehilangan daya kreatif, kehilangan jatidiri selaku orang Indonesia yang berpijak pada kekuatan-kekuatan Sumber Daya Alam-Asli milik bangsa Indonesia.

Sumber atau “induk” Strategi adalah IDEOLOGI.
IDEOLOGI menurunkan STRATEGI.
STRATEGI menurunkan TAKTIK.
Grand Design bahagian dari satu Strategi.
Strategi bahagian dari suatu Ideologi.
Grand Design adalah satu Seksi dari Ideologi.

Jadi, ada Ideologi, dari Ideologi turun ke Strategi, dari Strategi turun ke Taktik. Grand Design berada di antara Strategi dan Taktik. Bisa juga dianggap, grand design itu sebagai suatu “strategi kecil” atau “taktik besar”.

Grand Design yang Strategi Kecil menurunkan Taktik yang non-Ideologis, yaitu taktik-operasional yang berada dalam jalur sistem. Suatu sistem dapat berada pada jalur Strategi-Ideologis, dapat pula berada pada jalur Grand Design non-Ideologis. Taktik dan Sistem di dalam jalur Strategi-Ideologi tentu sangat berbeda dengan Taktik dan Sistem di dalam jalur Grand Design non-Ideologis.

Moral dan kebajikan menguap dari tataran jalur Grand Design. Itu membuktikan bahwa Grand Design tidak ada hubungan dengan Ideologi, karena Ideologi bersumber dari Wahyu.

Seorang KADER harus benar-benar memahami bahwa setiap detik ia berada dan berinteraksi, dengan/dalam 3 [tiga] instrument besar di dalam dirinya, yaitu :

[1] instrumen IDEOLOGI,
[2] instrumen KERAKYATAN,
[3] instrument POLITIK.

Ideologi lebih luas dari Kerakyatan dan Politik. Kerakyatan lebih luas dari Politik. Ketiga instrument ini harus berpadu, di dalam Jiwa, Karakter dan Mental seorang Kader. Kekurangan salah satu unsur tersebut akan mengakibatkan terjadinya kepincangan atau disharmoni pribadi seorang kader. Semua instrumen merupakan total kepribadian sebagai pencerminan jati diri seorang Kader, disinilah letak Nilai-Kualitas seorang Kader.

Pencampuran dari ketiga Instrumen tersebut, akan membentuk “fithrah-baru” bagi seorang Kader. Kader-Ideologis, Kader-Kerakyatan, Kader-Politik. Dan mutlak harus ada Kader-Organisasi. Salah satu kerja Kader-Organisasi adalah membangun jaringan Intelijen seluas-luasnya. Perangkat Organisasi adalah Seksi kader-kader Security dan Seksi kader-kader Intelijen. Kader-Intelijen adalah jenis Kader yang harus sangat matang, secara mental dan karakter.

Musuh Organisasi yang terbesar adalah KEHAMPAAN IDEOLOGI. Kultur-aman dan Kultur-syahid merupakan dua kutub yang datang kemudian, di dalam proses perjalanan perjuangan penegakan Ideologi. Harga syahid akan dibeli oleh para Kader demi mempertahankan Ideologi, karena telah merekat dan menyatu dengan nilai-nilai Agama dan inti-inti Ajaran, dalam kadarnya yang telah menjadi lebih murni. Jadi, mempertahankan Ideologi adalah paralel atau berdampingan, saling menunjang dengan mempertahankan nilai-nilai Agama dan Ajaran.

IDEOLOGI ITU SUATU ANUGERAH, BUKAN ILMIAH. Ideologi itu membantun ke dalam pikiran manusia, datang dari dunia lain, bukan dari strata empiris. Ideologi itu semacam suatu Rahmah bagi manusia. Ia merubah dunia, terutama terhadap cara berpikir manusia. Ideologi mem-pola-kan cara berpikir orang, dengan menyingkirkan cara berpikir curang, mengenai nilai-nilai kemanusiaan.

Ideologi itu seperti tampak jauh tetapi dekat, melekat di dalam hati sanubari manusia dan bangsa. Ideologi bebas mencari bentuknya sendiri, dalam cara menelusuri kekeringan simpati terhadap Tuhan di dalam tubuh suatu bangsa. Tetapi Ideologi dapat bergerak-cepat bagaikan kilat, memasuki arus-pikir manusia. Ideologi menentang kejahilan yang bersarang di dalam diri manusia, mencerahkannya, sehingga dapat kembali mengenal Tuhan.

Ideologi bukan barang rampasan tetapi suatu yang jadi sendiri. Tumbuh macam rumput di padang steppa, dari bawah mencuat ke atas. Kemudian menimbulkan keindahan dalam pandangan manusia. Keindahan inipun masih merupakan Rahmah, dari Sang Maha Pencipta sebagai tanda kebesaran-Nya. Jadi, ideologi itu bukan hitung-hitungan atau matematika. Ia afdhol dan sebagai sumber kebijaksanaan dalam cara berpikir serta nalar manusia.

Dan Ideologi takkan amprok dengan kenyataan, sebab Ideologi itu sendiri adalah suatu kenyataan. Ideologi itu suatu garis-nalar yang menelusup ke dalam jiwa dan hati sanubari manusia. Ia bukan ilmu wetenschap. Ia pencipta-ilmu di sepanjang garis-nalar yang menelusup tersebut Ideologi menimbulkan inspirasi dan menyiapkan manusia mampu menerima ilham dari Tuhan nya.

Ideologi berakar-tunggang, membumi, bersemi di dalam hati sanubari manusia, Bergerak dalam “BINGKAI – ISLAMI” yang sangat luas. Mulai dari masa yang lalu, dimana tetesan-tetesan Wahyu disampaikan melalui para Nabi, sampai ke masa yang akan datang dalam kehidupan manusia.

Maka pada pucuknya, ideologi memanjatkan DOA kepada ALLAH Rabbul `Alamin.

Ideologi melintasi wilayah-wilayah, bangsa-bangsa, dan negara-negara. Tidak terikat dengan ruang dan waktu.

IDEOLOGI ITU MENYATU DENGAN ALAM.

Sesungguhnya, Ideologi itu satu-kesatuan dengan alam. Satu nisan, artinya apabila hancur alam ini maka hancurlah Ideologi. Jadi, Ideologi itu meng-alam, menghayati dan melugas bersama unsur-unsur “alami” serta ISLAMI lainnya. Ideologi suatu postur-hakekat yang berkendali di dalam Wahyu serta bertali ke dalam Ajaran.

Ideologi itu suatu obat, semacam kristal berkhasiat yang dapat melebur daki dunia, ke dalam alam bawah sadar, kemudian menimbulkannya kembali ke permukaan dengan nalar, yang menafikan daki dunia itu. Daki dunia adalah suatu barang rongsokan, musuh Ideologi.

Ideologi itu sendiri keramat, artinya: apa katanya, jadi dan baik. Secara keseluruhan, Ideologi itu luhur, bermartabat. Di pundaknya, ia mengusung beban dunia yang telah terkontaminasi, lalu dihambungkannya ke dalam “kawah pencerahan rohani”, untuk dibersihkan serta dijernihkan ke dalam bentuk akal budi intelektual, yang berpihak kepada kebenaran, keadilan dan kemanusiaan.

Ideologi bukan teori-teori berdasarkan perjalanan empiris yang berjela-jela,

dari suatu teori ke teori lainnya yang berkembang dari zaman ke zaman.

Bukan itu Ideologi.

Ideologi itu telah ada sejak Wahyu “diulurkan” kepada manusia.

Lalu Ideologi yang “terlekat” di dalam Wahyu itu “keluar mencari pengalaman”

di dalam jiwa manusia ke dalam perjalanan empiris Wahyu-wahyu yang diturunkan,

sedikit-sedikit dalam waktu ribuan tahun.

Ideologi juga bukan hukum alam.

Hukum alam itu sebenarnya sunatullah yang terlekat di dalam materi-fisik,

dimana di dalamnya tersembunyi keghaiban, rahasia Allah.

Ideologi terdiri dari unsur-unsur Wahyu dan unsur-unsur Ajaran.

Otak manusia itu “materi”, bukan Wahyu dan bukan Ajaran.

Otak manusia itu bagian dari alam,

oleh karena itu bekerjanyapun sesuai dengan sunatullah,

Padamana “terlekat” unsur ghaib di dalam dirinya.

Otak manusia yang dibiarkan bekerja,

dari suatu proses empiris ke proses empiris lainnya,

tapi “terlepas” dari Wahyu dan Ajaran

dan “tidak dihinggapi” oleh Wahyu dan Ajaran,

otak manusia itu sama dengan otak hewan.

Otak hewan itulah yang menghasilkan isme-isme.

Ideologi akan putus asa bila kebenaran diinjak-injak.

Atau bila kebenaran diganti dengan kenistaan hati-sanubari manusia.

Qudus-lah Ideologi dari pancawarna nuansa irihati

yang bersarang di dalam jiwa manusia.

Ideologi berkepentingan dengan nuansa kebersihan hati-qalbi manusia,

yang menunjukkannya ke jalan kebenaran yang hakiki.

Gelombang nuansa iman dipertahankan secara teguh di dalam strata Ideologi,

sebagai pencocok hadist-hadist Ideologi terhadap ayat-ayat Wahyu yang absah.

Cahaya iman mendominasi hati seorang Ideolog,

yang mengancam kekeringan yang mungkin terjadi,

terhadap  tataran emansipasi kultural

yang disodorkan oleh kekerdilan jiwa manusia.

Kehadiran Ideologi bukanlah suatu revolusi tetapi suatu Kelahiran.

Ia terkandung di dalam sangkar-sangkar atau kotak-kotak atau tataran-tataran,

padamana disitu terjadi proses Wahyu yang bertangga-turun

dan Ajaran yang bertangga-naik.

Suatu kelahiran dari kandungan berabad-abad

dalam perjalanan sejarah kehidupan umat manusia.

Uraian ini sangat membuktikan bahwa :

Ideologi terkait-erat bahkan merupakan Keturunan dari Wahyu dan Ajaran.

Tidak disangsikan lagi bahwa Ideologi harus menghormati Wahyu dan Ajaran.

Sementara Wahyu dan Ajaran tidak pernah menjadi layu,

sebaliknya Ideologi semakin hari kian tumbuh menjadi dewasa.

Segala yang lahir di luar hubungan Wahyu dan Ajaran bukanlah Ideologi.

Tidak ada paksaan dalam kelahiran Ideologi.

Ia lahir secara ALAMIAH, BATHINIAH, dan KEGHAIBAN.

ISLAM bukan Ideologi, itu AGAMA.

Agama yang berdasarkan Wahyu yang termaktub di dalam Kitab Suci Al Qur`anul Karim,

yang dibawa oleh seorang Rasul yaitu Nabi Muhammad S.A.W.

Jangan dicampur-aduk Agama dan Ideologi.

Agama ya Agama, Ideologi ya Ideologi.

Agama semata-mata berdasarkan Wahyu,

yang langsung diturunkan oleh ALLAH Sang Maha Pencipta,

sedangkan Ideologi “turun” dari butiran-butiran Wahyu

dan “naik” dari bumi Ajaran.

Ideologi itu ibarat Guru Mursyid yang hadir,

Member itahu dan mengajar kepada “qalbu, hati, otak dan intelligensia”.

Guru Mursyid itu bukan orang tetapi semacam Ruh halus yang tidak terdeteksi,

baik oleh manusia biasa maupun oleh Jin.

Dan apabila Guru Mursyid yang menjelma semacam berbadan atau bertubuh,

itu Jin !!

Bukan Guru Mursyid.

Bersambung :

[1]  ISLAMI

[2]  SOSIALISME

[3]  KERAKYATAN

[4]  SOSIALISME KERAKYATAN

[5]  IDEOLOGI SOSIALISME KERAKYATAN YANG ISLAMI  [ SKYI ]

One response to “IDEOLOGI [1]

Subscribe to comments with RSS.

  1. Kompleks dengan bahasa yang definitif. Kelihatan penulis adalah alumni bersistem “juz amma” sebelum munculnya kitab “Iqra’ bervolume”. OK jum! kalau boleh, aku saran nih.. (aku pun sebenarnya lagi belajar; soalnya kita tumbuh di zaman yang sama) .. kita ikuti gaya tulisan di media sekarang. Pengolahan berita dengan konsep “Contoh”, biasa dibilang orang “Matrix”. Tatanan ini mampu merangkul lebih banyak golongan usia.

    Simple aja menurutku jum..
    Ideologi didapat dari konsumsi panca-indra kita. Dengan itu, manusia punya 3 jenis ingatan: sadar, setengah sadar, & tak sadar.

    Contoh:

    Aku ngetik (sadar dengan menekan keyboard), berusaha mengingat kata yang lupa (setengah sadar), dan kata-kata yang dipilih (tanpa sadar sesuai dengan kepribadian/ideologiku).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: