Penyelamatan Beras Aceh   Leave a comment


Beras Premium Organik 10kg/sak Kopemas-Aceh

Kabupaten Aceh Tenggara, terletak di Provinsi Aceh yang dikelilingi oleh dua pegunungan yaitu Bukit Barisan dan Gunung Leuser yang memanjang dari Utara dan Selatan dengan luas wilayah 423.141 Ha (Aceh Tenggara Dalam Angka, 2000). Tahun 2010 Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh dan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Aceh mengumumkan data penggunaan lahan menurut Kabupaten/Kota yaitu dengan luasan area: sawah 17.431 ha, perkebunan 20.889 ha, ladang 5.504 ha, kolam 540 ha, hutan rakyat 22.459 ha, dan hutan negara 339.853 ha. Hutan negara yang dimaksud yaitu kawasan Gunung Leuser sebagai kawasan Taman Nasional yang harus dilindungi, dengan luas area 81,07%, luas sawah yang hanya 4,16% masih lebih kecil dibandingkan dengan luas perkebunan 4,98%. Potensi sektor pertanian pernah membawa Aceh Tenggara mencapai swasembada beras nasional pada 1984 dan 1987. Namun kini kondisi swasembada ini tidak dapat dipertahankan.

Apakah kita pesimis atas peluang untuk membangun kembali swasembada beras di Aceh Tenggara? Mari kita simak pula data pembanding lain. Berdasarkan luas dan produksi tanaman padi (sawah dan ladang) menurut kabupaten kota, Aceh Tenggara memiliki luas tanam 17.443 ha dengan luas panen 21.469 ha yang menghasilkan volume produksi 94.594 ton atau setara dengan 4,41 ton/ha. Dari total luas tanam (planted area) seluruh Aceh yang mencapai 364.259 ha dan luas panen (harvested area) 352.281 ha, Aceh ternyata menghasilkan total tonase produksi padi sebesar 1.582.391 ton. Kabupaten Aceh Utara tercatat memimpin prestasi produksi beras di Aceh dengan produksi 263.401 ton (16,65%), disusul Kabupaten Aceh Besar di peringkat ke-2 dengan produksi 186.159 ton (11,76%). Kabupaten Aceh Tenggara berada di peringkat ke-7 penyumbang produksi beras di Aceh dengan produksi 94.594 ton atau 5,98% dari total produksi se-Aceh. Bayangkan, Aceh Tenggara yang hanya memiliki asset total luas sawah dan ladang seluas 22.936 ha atau 5,47% luas wilayah kabupaten Aceh Tenggara, ternyata masih mampu menyumbang produksi padi Aceh sebesar 5,98%. Ini adalah peluang intensifikasi pertanian, potensi investasi sektor pertanian, dan penting untuk dikelola keberlanjutannya.

Menurut Sandiaga Uno, pendiri PT. Saratoga Investama Sedaya, bidang bisnis yang paling prospek ke depan adalah Food, Energi dan Water (FEW).

Analisa Investasi Nasional

Di tengah masa suram investasi dampak dari krisis ekonomi global, ada baiknya mari kita simak Laporan Utama KONTAN, Mingguan Bisnis & Investasi Edisi 6 – 12 Agustus 2012. Analis menilai, penyebab utama pelemahan indeks saham pekan sebelumnya adalah sentimen negatif akibat pernyataan petinggi The Federal Reserve – Bank Sentral Amerika Serikat dan Presiden European Central Bank (ECB) – Bank Sentral Kawasan Eropa, Mario Daghi. “Pada kenyataannya, ternyata baik The Fed dan ECB tidak mengeluarkan stimulus dan mengumumkan kebijakan baru,” sebut Purwoko Sartono, analis Panin Sekuritas. “Akhir dari krisis Eropa ini masih belum kelihatan. Pasar mengkhawatirkan krisis ini bisa menyeret negara lainnya,” papar Satrio Utomo, Kepala Riset Universal Broker Indonesia. Selain isu krisis di Eropa dan ekonomi AS yang belum pulih, pasar juga akan fokus pada perlambatan ekonomi di China.

Defisit Neraca Perdagangan
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan ekspor impor yang menjadi acuan data perdagangan dalam negeri, nilai ekspor Indonesia di Juni 2012 hanya sebesar US$ 15,36 miliar. Jumlah ini lebih kecil sekitar 8,70% dari ekspor di Mei 2012. Sementara bila dibandingkan dengan ekspor di Juni 2011, ekspor Indonesia turun 16,44%. Di saat yang sama, Indonesia justru mencatatkan impor sebesar US$ 16,69 miliar. Artinya neraca perdagangan Indonesia minus sekitar US$ 1,32 miliar. Defisit neraca perdagangan sebelumnya di April 2012 sebesar US$ 764 juta. Ini adalah rekor defisit perdagangan bulanan tertinggi dalam sejarah ekspor impor Indonesia. Ini juga pertama kalinya Indonesia mencatatkan defisit neraca perdagangan tiga bulan berturut-turut selama paro pertama tahun 2012: April hingga Juni. Paling tidak sejak April 2008 silam, empat tahun lalu, saat krisis global melanda hebat di 2008, kinerja ekspor yang keok melawan impor hanya terjadi dua kali, yakni pada bulan April dan Juli.

“Fakta tersebut, ditambah arus keluar dari rupiah, menegaskan pandangan kami bahwa neraca pembayaran di kuartal dua 2012 akan semakin suram,” sebut Wisnu Wardana, ekonom Bank CIMB Niaga, dalam risetnya.

Investasi Pasar Domestik
Analis Senior Batavia Prosperindo Sekuritas, Andy Ferdinand, menyarankan para investor: “Sektor dengan eksposur yang kecil terhadap dollar AS juga boleh dicermati”. Artinya para analis sepakat investor menginvestasikan dananya pada saham-saham yang berorientasi pada pasar domestik. Sebagai contoh, para analis menyebutkan investor bisa menempatkan dananya di saham-saham sektor perbankan atau sektor ritel dan yang paling mengejutkan adalah barang konsumer.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) minggu pertama Agustus 2012 menunjukkan angka yang menarik. Indeks sektor finansial atau dikenal dengan Jakarta Stock Exchange Finance Index (JAKFIN) menempati posisi tertinggi dengan bobot (weighting) 24,94% terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Posisi kedua diisi sektor infrastruktur dengan bobot 14,10%. Posisi ketiga adalah sektor consumer goods dengan bobot 13,56%.

Lantas dimana posisi indeks sektor komoditas pertambangan dan perkebunan yang selama ini diandalkan emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai mesin pencetak uangnya di bursa saham Indonesia?

Indeks sektor tambang alias Jakarta Stock Exchange Mining Index (JAKMINE) di posisi ke-6 dengan bobot 9,17%. Sementara, sektor perkebunan atau Jakarta Stock Exchange Agriculture Index (JAKAGRI) hanya menyumbang angka 3,43%.

Harga komoditas selalu mengekor pergerakan harga minyak sebagai pemimpin komoditas energi dunia. Era booming harga komoditas pada 2007-2008 telah berlalu. Kepala Riset BNI Securities Norico Gaman mengatakan: “Seiring pelemahan ekonomi global, permintaan energi turun mengakibatkan harga komoditas sektor tambang terseok-seok, termasuk juga komoditas dari sektor perkebunan”.

Pilihan investasi yang menarik bagi investor jangka panjang adalah investasi yang berorientasi pada pasar dalam negeri. Salah satu sektor yang paling menarik untuk dilirik adalah barang konsumsi. Mari kita simak kinerja indeks sektor barang konsumsi pada sampel penutupan perdagangan di Agustus 2012, indeks sektor consumer goods ditutup di level 1504,05. Artinya sepanjang tahun ini indeks sektor barang konsumsi ini sudah meroket hingga sebesar 14,29%. Bahkan indeks saham para produsen barang konsumsi sempat mencapai level tertinggi tahun ini di 1.558,60 pada Juli 2012. Bila dihitung hingga titik tertingginya, saham-saham sektor consumer goods sempat membukukan kenaikan sebesar 18,44% tahun ini.

Investasi sektor consumer goods peluangnya sangat menjanjikan. Selama ekonomi Indonesia masih kuat, sektor barang konsumsi tetap tumbuh. Analis Sinarmas Sekuritas Jansen Kustianto menilai, pilihan investasi sektor consumer goods ditentukan oleh faktor brand equity yang kuat dan jaringan distribusi yang luas.

Beras Organik Aceh

Kembali ke Persoalan Beras Aceh

Dosen Manajemen Perbanas HM Ihsan Kusasi pernah mengungkapkan di tulisannya berjudul “Balada Kedelai” yang isinya: “Ada empat faktor yang menentukan komoditi pertanian – yang bisa kita jadikan refleksi untuk penyelamatan beras Aceh – yaitu; pemerintah, global rivalry dan local unavailability.

Pertama, Negara Indonesia sebagai negara agraris yang seharusnya memiliki spesialisasi pertanian. Pemerintah daerah harusnya melindungi petani dari harga impor domestik luar Aceh, terutama produk beras dari Medan, sehingga petani tertarik menanam padi.
Kedua, global rivalry, adanya keharusan impor domestik dari luar Aceh adalah perbedaan kualitas barang impor dengan produksi barang sejenis yang dihasilkan produksi budidaya pertanian yang bersinergi dengan kualitas mesin pabrik kilang padi lokal, dikelola oleh manajemen kewirausahaan yang mandiri dan profesional, serta berorientasi publik sehingga menarik minat investor untuk menjaga keberlanjutan usaha. Persaingan global komoditi pertanian tidak hanya dari faktor harga, tetapi ternyata juga dari segi kualitas. Nilai tambah “organik” alias alami dan komitmen untuk melestarikan kearifal lokal beras Aceh akan menjadi kekuatan luar biasa yang tumbuh dari kepercayaan diri yang belum tentu dimiliki oleh pesaing lain dalam industri beras di luar Aceh maupun kilang padi lokal.

Ketiga, local unavailability, ketidaktersediaan produk lokal menjadi salah satu penyebab alasan impor domestik dari luar Aceh. Ketahanan pangan daerah dipengaruhi pula oleh ketahanan pangan nasional. Persediaan cadangan beras ditentukan oleh produksi dan harga gabah, biaya operasional pabrik, fasilitas distribusi dan jaringan yang luas sampai ke seluruh kabupaten/kota yang turunannya berarti mencapai lokasi-lokasi pemasaran di kecamatan.

Beras Organik Sebagai Peluang Investasi

Neraca perdagangan kita mencatat fenomena defisit ekspor terhadap impor yang berarti hingga hitungan bulan atau tahun ke depan investasi komoditi perkebunan masih bergejolak. Di tengah kelesuan investasi komoditi sektor perkebunan, trend ke depan adalah menanam jenis komoditi perkebunan di lahan tumpangsari dengan komoditi bernilai ekonomi tinggi dan berorientasi harga internasional dan mampu memenuhi permintaan yang tak terbatas. Masalah adalah peluang, periode krisis ekonomi global ini mari segera kita manfaatkan untuk menanam, pilihan tumpangsari terbaik untuk manfaat ekonomis jangka panjang adalah Gaharu dan Pala. Gubal Gaharu dan minyak atsiri Pala menjadi komoditi nomor satu di pasar komoditi internasional.

Namun, data indeks Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi refleksi terpenting yang seharusnya menggugah kesadaran kita bahwa indeks sektor consumer goods ternyata tidak terpengaruh krisis ekonomi global, bahkan justru terus tumbuh mengalami peningkatan signifikan. Artinya, inilah saatnya kita fokus mengisi peluang investasi dan mengelola sektor barang konsumsi dengan serius.

Beras digolongkan komoditi non migas – pertanian, dan beras juga termasuk golongan sektor barang konsumsi. Beras sebagai bahan baku makanan pokok ternyata sesuai analisa investasi adalah pilihan investasi sektor barang konsumsi yang terbaik.

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk upaya realisasi penyelamatan beras Aceh.

Jumi Sanoprika
Koperasi BUMINDO (Badan Usaha Milik Indonesia)
Manager Cabang Pembantu Aceh Tenggara
Mobile : 0812 695 7921
Email : bumindo.agara@gmail.com
Website : http://koperasibumindo.com
Blog : bumindoagara.wordpress.com
Facebook : facebook.com/bumindo.agara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: